Senin, 29 Desember 2014

Bisnis Sepatu Kain yang Menguntungkan

Sulit menemukan ukuran sepatu yang sesuai dengan kakinya, Nikmatus Sholihah berinisiatif membuat sepatu sendiri. Hasil kreasi sepatunya menjadi produk bisnis yang mendatangkan keuntungan.
 
''Ukuran sepatu saya nanggung, yaitu size 35. Ukuran dewasa bukan, ukuran anak-anak yabukan,'' ungkap Nikmatus Sholihah lantas tertawa. Perempuan yang akrab disapa Nikma itu sulit menemukan sepatu yang cocok dengan dirinya. Saat menemukan ukuran yang pas, modelnya tidak sesuai. Saat menemukan model sepatu yang disukai, ukuran selalu tidak ada.
 
Pengalaman itulah yang mendorong Nikma berkreasi membuat sepatu sendiri. Dengan begitu, perempuan berjilbab tersebut merasa percaya diri karena model dan ukuran sepatu sesuai dengan keinginannya. Selain itu, mudah di-mix-match dengan baju yang dipakai.
 
Bahan kain yang digunakan pun beragam. Antara lain, kain katun, kanvas, batik, jins, dan kain impor dari Jepang. Satu jenis kain tidak berpatok pada satu sepatu. Namun, kain bisa dikombinasikan sehingga menjadi sepasang sepatu yang cantik.
 
Nikma sering memakai sepatu kreasinya saat menghadiri acara keluarga maupun hang out bersama teman-teman. Orang-orang tertarik dengan sepatu yang dikenakan perempuan 33 tahun tersebut. Satu per satu teman memesan sepatu kepada Nikma. Keadaan itulah yang ditangkap Nikma sebagai peluang bisnis sepatu. Sejak setahun lalu, bermodal sekitar Rp 5 juta, Nikma memberanikan diri membuka bisnis berlabel Nikma Basyar. ''Kali pertama saya stok 10 pasang sepatu langsung habis,'' kenangnya.
 
Pesanan lebih banyak lagi ketika Nikma memasang foto produknya di media sosial. Konsumen tidak hanya berasal dari Surabaya, namun menyebar hampir dari seluruh wilayah Indonesia. Misalnya, Jakarta, Kalimantan, Sulawesi, Batam, dan Bali. Lebih luas lagi, Nikma juga mendapat order dari Brunei dan Malaysia.
 
Nikma menerapkan sistem ready stock sekaligus customized. Dua sistem tersebut dianggap ampuh untuk menarik perhatian konsumen. Sistem stok bertujuan menghadapi konsumen yang ingin melihat produk sebelum membeli. ''Kalau stok ada, saya siap menerima konsumen kapan pun,'' imbuhnya. Sementara itu, sistem customized digunakanuntuk melayani keinginan konsumen yang lebih detail.
 
Selain sepatu dewasa, Nikma menyediakan sepatu anak-anak. Ada pula sepatu pasangan antara ibu dan anak. Harga setiap pasang sepatu berkisar Rp 105 ribu–Rp 165 ribu untuk ukuran anak-anak. Sepatu dewasa dihargai Rp 175 ribu–Rp 350 ribu. Hal tersebut bergantung pada kerumitan model dan bahan yang digunakan. Berdasar jenis, produk bisnis terdiri atas flat shoes, wedges, bot, dan heels.
 
Tidak hanya meraup keuntungan, dalam berbisnis, Nikma juga ingin memberikan edukasi kepada konsumen. Terutama tentang bahan kain yang digunakan dalam pembuatan sepatu. ''Dalam packaging-nya, saya menyertakan secarik kertas tentang asal usul kain yang digunakan dalam sepatu tersebut,'' kata perempuan yang saat ini berdomisili di Sidoarjo itu. Nikma pun menerima banyak respons positif dari konsumen.
 
Saat pesan, perempuan kelahiran 28 Mei 1981 tersebut mewajibkan konsumen membayar uang muka 50 persen dari harga produk. Kalau barang sudah jadi, konsumen harus melunasi pembayaran sebelum barang dikirim. ''Jangka waktu pesan sampai produk jadi biasanya sekitar satu minggu,'' terangnya.

Garuda Pangkas Jumlah Kursi Bisnis

Garuda Indonesia akan mengurangi kuota kursi kelas bisnis per tahun 2015. Maskapai pelat merah tersebut mengklaim kursi kelas bisnis kurang peminat. "Paling parah, kelas bisnis hanya terisi 30 persen," ujar Direktur Utama Garuda Indonesia Arif Wibobo, Senin, 29 Desember 2014. Sedangkan perhitungan rata-rata pada tahun 2014 ini, kursi kelas bisnis hanya terisi di kisaran 40-50 persen.

Oleh karena itu, pihaknya akan memangkas kursi kelas bisnis untuk kelas Boeing yang semula berjumlah 12 menjadi delapan kursi. Empat kursi peralihan itu akan dialihfungsikan menjadi kursi kelas ekonomi. Perubahan ini akan menambah rataan kursi ekonomi sebesar 15 persen," kata Arif.

Arif yakin peralihan itu akan mampu mendongkrak pendapatan Garuda dibanding dengan mempertahankan kuota kursi bisnis seperti semula. Apalagi dengan adanya edaran Presiden Joko Widodo yang melarang pejabat negara naik kelas bisnis. Edaran itu diprediksi bakal mempengaruhi tingkat pembelian tiket kelas bisnis Garuda. Meski kursi kelas bisnis dipangkas, namun kursi kelas eksekutif tidak mengalami perubahan

Minggu, 28 Desember 2014

Bisnis galangan kapal Batam dinilai masih sulit tumbuh

Asosiasi Perusahaan Galangan Kapal Batam pesimistis bisnisnya bakal tumbuh tahun depan. Sebab, ekonomi global masih mengalami pelemahan.
"Kami perkirakan belum akan membaik," kata Ketua Batam Shipyard and Offshore Association (BSOA) Luc Verley seperti dikutip Antara, Minggu (28/12).
 
Menurutnya, industri galangan kapal di Batam mulai meredup lima tahun terakhir. Suramnya bisnis perkapalan internasional berimbas ke Batam.
Selain itu, penurunan produksi kapal di Batam disinyalir lantaran konsumen lebih memilih memesan kapal di China. Akibatnya, pekerja di galangan kapal Batam turun drastis, dari sekitar 250 ribu orang menjadi sekitar 30 ribu orang.
 
Sebelumnya, Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Kepulauan Riau Cahya mengatakan pelemahan industri galangan kapal disebabkan beberapa kebijakan pemerintah yang kurang mendukung. Diantaranya, penetapan Upah Minimum Kota.
"Sektor galangan kapal sedang mengalami kelesuan yang luar biasa, rata-rata order anjlok hingga tinggal 20 persen," kata dia.
 
Sebaliknya, Deputi Bidang Sarana Usaha Badan Pengusahaan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam atau BP Batam Istono mengatakan industri galangan kapal dan industri penunjang minyak dan gas bumi Batam masih bagus. Data BP Batam menyebutkan terdapat sekitar 100 perusahaan galangan kapal beroperasi di Batam berasal dari berbagai negara.
Menurutnya, industri galangan kapal masih meneriman pesanan kapal perang dari pemerintah pusat.

Bisnis Automotif Diprediksi Stagnan

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Sudirman MR mengatakan, yang paling kena dampak atas kenaikan PPnBM adalah pengusaha barang-barang mewah.

Kinerja penjualan dipastikan akan mengalami penurunan, padahal sebenarnya minat konsumen sangat tinggi. Penjualan mobil pada 2015 diprediksi akan stagnan seperti tahun ini yaitu mencapai angka sekitar 1,2 juta unit. Karena itu, untuk menaikkan gairah pasar automotif dalam negeri, perlu dorongan dari pemerintah berupa penurunan PPnBM.

Sudirman mencontohkan, PPnBM sedan kecil dengan mesin berkapasitas di bawah 1.500 cc mencapai 30%. Sementara itu, PPnBM termurah sebesar 10% dinikmati jenis mobil serbaguna (multi-purpose vehicle/MPV) dengan kapasitas mesin di bawah 1.500 cc. "Untuk mendapatkan harga yang murah, tentu PPnBM harus dikurangi. Ini tidak hanya untuk meningkatkan pasar domestik, tetapi dengan peningkatan produksi, kita berpeluang besar dalam mengekspor," ucapnya.

Public Relation Lamborghini Rania Shamlan mengatakan, kenaikan PPnBM berpengaruh terhadap penjualan Lamborghini. "Kita masih beradaptasi dengan PPnBM yang baru karena baru naik tahun ini. Ekspektasi kita mungkin tahun depan akan lebih baik lagi penjualannya karena kita berharap para calon pembeli bisa beradaptasi dengan pajak yang baru," ucapnya. Rania menambahkan, kenaikan PPnBM membuat hargaharga Lamborghini melambung. Tipe Aventador sebelumnya USD998.000 kini sekitar USD1 juta.
 
Artikel lainnya